Uncategorized

Tentang Wanita yang kupanggil Ibu

Mungkin tak banyak tulisan yang aku buat untuk menceritakanmu, wanita hebatku. karena aku yakin dan tahu, berpuluh-puluh lembarpun aku menulisnya masih tak akan cukup untuk itu.

Ibu, sungguh aku bersyukur bisa lahir rahimmu. Wanita kuat yang bisa berdiri tegap. Wanita yang selalu menggunakan feeling-nya di setiap kesempatan. Sungguh ibu, dengan apa aku bisa membayar semuanya? bahkan disaat aku mau melepas masa lajangku, masih sampai saat detik ini aku merepotkanmu.

Ibu, aku tahu engkau tidak seperti ibu teman-temanku kebanyakan. Yang bisa bekerja ke kantor mengenakan seragam, yang dengan gemulainya mengajar di depan kelas, atau duduk rapi di belakang meja kerja. Tapi, aku sangat ibuku yang ini. Beliau rela bangun pagi-pagi untuk membuat jajanan kecil dan es lilin yang selalu aku bawa ke sekolah untuk dititipkan ke kantin. Memang tidak seberapa, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mempunyai tabungan sendiri.

Ibu, engaku memang tidak bekerja kantoran, tapi aku sungguh senang melihatmu ke masjid. Berjalan bersama adek-adek kecil, murid-murid TPA mu. Murid-murid yang lucu, yang selalu menyapa di depan rumah jika lewat. Ibu, aku sungguh hormat pada ibuku. Yang mau meluangkan waktunya untuk mengajarkan anak-anak mengenyam dunia Al-Qur’an. Bukan hanya anak-anak kecil yang kau ajar, tapi ibu-ibu komplek yang ingin belajar mengaji.

Ibu, seringkali aku mengeluh, aku takut akan terjadi sesuatu yang tidak enak dengan diriku. Tapi disitu do’amu bekerja ibu. Ditiap momen anakmu kesulitan, megeluh atau tidak enak badan, engkaulah yang pertama datang, engkaulah yang pertama memanjatkan do’a untuk kami, anak-anakmu yang kadang masih suka merepotkmu.

Ibu, aku rindu momen-monem itu. Momen dimana ibu menyiapkan sarapan dipagi hari, kami setia menunggu sebelum mandi berganti. Sarapan yang sangat sederhana, tapi itu merupakan pengisi dahaga kami ibu. Terkadang ibu membuat bekal, supaya aku tidak jajan diluar.

Ibu, engkau menangis sejadi-jadinya saat tahu aku harus operasi. Engkau begitu takut sesuatu buruk terjadi padaku. Ibu, aku juga takut, tapi aku tidak berani menambah bebanmu. Aku berusaha tidak nangis saat ibu telpon, aku tidak mau ibu bertambah stress.

Ibu, aku mau engkau bahagia. Aku mau engkau sehat. Aku mau engkau panjang umur. Aku mau engkau tidak pernah menangis sedih lagi. Aku mau engkau selalu tersenyum.

Ibu, aku ingin selalu membuatmu bahagia, di dunia maupun di akhirat nanti.

I love you, Mom.

Bontang, 11 Februari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s